Mengkader generasi Shahibul Qur’an

Sebuah pertanyaan datang kepada saya mengenai bagaimana keadaan belajar disini dan bagaimana caranya bisa menerapkannya di indonesia.

Baiklah saya akan mulai menggambarkan seringkas mungkin bagaimana keadaan pembelajaran disini, untuk bisa kita ambil pelajaran dari nya.

Di Darul Hadits Fyush yang berlokasi di Yaman Utara ini, pembelajaran di terapkan dengan metode halaqah. Seorang syaikh atau guru duduk di depan murid yang menghadap kepadanya, sebuah bentuk pembelajaran yg sederhana. Beginilah bentuk pembelajaran para ulama di zaman dulu, pendidikan berbasis mesjid. Pembelajaran tidak dilakukan di kelas sebagaimana kebanyakan sekolah di zaman sekarang ini di negeri negri islam termasuk Indonesia.

Halaqah – halaqah ilmu jumlahnya lebih dari seratus halaqah setiap hari nya, dimulai dari subuh sampai jam 10 malam. Bahkan masih kita temukan halaqah ilmu hingga tengah malam. Jumlah siswa di setiap halaqah bervariasi. Ada halaqah besar dimana thalib nya sangat banyak bisa mencapai seratus murid dan syaikh menggunakan speaker untuk berbicara agar dapat terdengar suaranya. Ada yang jumlah thulabnya puluhan, ada yg dibawah sepuluh, ada yang 3 atau 2 orang, ada juga yang thalibnya cuma satu orang, meski demikian syaikh tersebut tetap semangat mengajar. Saya sendiri pernah belajar ilmu sharf dengan syaikh Abdullah Asshumaliy dan syaikh Abu Yusuf Asyihriy mengambil pelajaran kitab risalah lathifah fi ilmi ushul fiqh sendirian saja. Belajar langsung sendiri berhadap hadapan dengan seorang syaikh terasa sangat spesial, hati kita terasa lebih dekat dengan syaikh tersebut dan kasih sayang seorang guru sangat terasa dalam pembelajaran. Hal ini mengingatkan saya akan hadits Jibril dimana ketika itu Jibril turun kedunia menjelma dalam bentuk manusia berhadap hadapan dengan nabi bertanya perkara agama.

Adapun jumlah total thulab yang belajar di Darul Hadits Fyush ini berkisar antara 2000 atau 3000 orang.

Diantara halaqah – halaqah itu ada halaqah khusus anak-anak yang jumlahnya berkisar 30 atau 40 halaqah, yang setiap halaqah nya terdiri minimal dari 10 hingga 30 orang.

Dari sini lahir para huffazh alQur’an cikal bakal thalibul ilmi dan ulama kelaknya. Anak-anak kecil hafal Qur’an adalah suatu yang biasa, bukanlah sesuatu yg istimewa karena rata – rata mereka sudah hafal Qur’an. Setelah menghafal Qur’an mereka menghafal kitab hadits dan mazhumah para ulama. Saya temui disini seorang anak umur 12 tahun sudah hafal Qur’an, hafal kitab riyadhus shalihin dan kitab bulughul maaram. Keduanya adalah kitab yang berisikan ribuan hadits. Bahkan di sini ada seorang syaikh qira’ah pemegang sanad qira’ah ‘asyrah(qira’ah sepuluh) umurnya baru 17 tahun. Beliau mengajar qira’ah dan memberikan ijazah sanad Al-Qur’an bagi yg mampu. Sedangkan untuk remaja dengan umur 13 -17 yang memiliki sanad qira’ah hafs bin ashim saja sangat banyak jumlahnya.

Disini juga saya dapati seorang bapak memiliki 23 anak dari 4 istri semuanya hafal Qur’an kecuali anak anak nya yang berumur dibawah 7 th.

Bagaimana proses nya..?

Melihat keadaan mereka diatas kita pasti kagum dibuatnya. Namun perlu kita ketahui bagaimanakah proses menuju itu semua? Karena sesuatu tentu tidak terjadi begitu saja melainkan melalui proses.

Dari sekian banyak metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran disana mulai dari yang keras hingga yang lembut dalam hal mendidik dan mendisiplinkan anak-anak dalam belajar, ada satu kesamaan dengan apa yang kita terapkan di ma’had Shahibul Qur’an, yang menurut saya metode ini yang cocok diterapkan di negri kita dalam metode mendidik anak agar mereka benar-benar berhasil di bentuk menjadi huffazh alQur’an.

Metode ini tidak lain adalah sinergi ma’had dengan para orangtua/wali. Saya melihat sinergi wali dengan markaz di sini sangat harmonis dan layak diacungi jempol, dimana wali aktif berperan mengontrol perkembangan hafalan Qur’an anak-anak nya dan menyediakan waktu utk mendengar murajaahnya. Bahkan saya pernah melihat salah satu orangtua disini membawa tongkat buat mengawasi anaknya agar menggunakan waktunya untuk muraja’ah bukan bermain. Hal ini memang di tekankan di sini dimana masyaikh kami di sela majlis umum sering mengingatkan para orang tua agar memperhatikan pendidikan anak-anak nya dirumah, dan masyaAllah mereka memang benar-benar memperhatikannya.

Contoh bapak yg punya 23 anak yg saya ceritakan diatas dia tidak akan kompromi dengan keterlambatan anak-anaknya dalam setoran hafalan hariannya yang jadual nya dia buat setiap hari untuk anak-anak nya.

Begitu juga penuturan seorang teman yang menceritakan masa kecil nya dengan 10 orang saudara melingkar di depan ayahnya dengan Al-Qur’an ditangan dan segelas lemon panas dan gula yang mereka bilang untuk meningkatkan kosentrasi. Setiap hari mereka lakukan itu untuk tasmi’ hafalan di depan orangtua nya kecuali hari Jum’at karena Jumat adalah hari libur bagi mereka.

Beginilah proses yg mereka lakukan, maka pantas saja hasilnya membuat sesuatu yg luar biasa menjadi biasa (ya luar biasa bagi kita dimana anak-anak yg hafal Al-Qur’an jarang kita temukan, namun disini sangat banyak yang hafal sehingga akhirnya menjadi biasa).

Nah sekarang bagaimana dengan kita ?

Saya pernah menceritakan kepada seorang syaikh pengajar Al-Qur’an yg beliau sudah 23 thn mengajar Al-Qur’an, mengenai proses pembelajaran dan menghafal Al-Qur’an di ma’had shahibul Qur’an. Beliau menyarankan harus ada sinergi antara sekolah dan wali murid yang mana setiap wali harus menyediakan waktu mereka untuk memantau hafalan dan menyimak murajaah hafalan mereka yang telah mereka dapatkan di sekolah, tanpa itu sulit terwujud apa yang kita ingin capai, persis dengan yang selalu kita pesankan kepada wali di setiap pertemuan.

Untuk apa ini dilakukan? Untuk memastikan anak-anak kita benar-benar menggunakan waktu luang nya untuk menghafal Al-Qur’an dan memuraja’ah hafalannya karena sudah tabi’at umumnya anak-anak menghabiskan waktu untuk bermain dan hal yang kurang manfaatnya, membiarkan dan hanya menyerahkan pendidikan anak-anak disekolah saja tanpa ada sinergi dan monitoring dirumah akan progress belajar dan hafalannya, tidak memperhatikan siapa teman bermainnya bahkan membiarkan mereka melihat contoh-contoh yang buruk dari televisi, internet atau media lainnya atau lingkungan nya yang buruk, maka akan sulit untuk mewujudkan generasi al quran seperti yang kita harapkan, Allahu a’lam bishawab

InsyaAllaahu ta’ala kami ingin sekali menulis bagaimana kisah belajar para ulama di waktu kecil dibawah naungan didikan para orangtua mereka.

Ibnu Syakiyakirtiy

Darul Hadits Fyush

📜 *Buletin elektronik Ma’had Shahibul Qur’an* – Bukittinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *