SUNNAH & ADAB BERHARI RAYA

بسم الله الرحمن الرحيم

Berikut adalah adab & sunnah dalam berhari raya, semoga Allah memberikan taufiq bagi kita besok untuk mengamalkan nya.

Waffaqanaallahu waiyyakum likulli yuhibbuhu wayardhah.

  1. Mandi sebelum keluar untuk shalat ied
    عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

dari Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar mandi pada Hari Raya Idul Fitri sebelum pergi ke tempat shalat Ied.[almuwatha’ : 428 ]

  1. Makan sebelum keluar untuk shalat iedul fithri dan setelah pulang shalat pada shalat iedul adha.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ

dari Anas bin Malik berkata, Pada hari raya iedul fithri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berangkat untuk melaksanakan shalat hingga beliau makan beberapa butir kurma.[HR Bukhari: 953]

Jika tidak menemukan kurma maka dapat memakan makanan lainnya.

Adapun pada hari iedul adha disunnahkan makan setelah pulang dari shalat ied dan makan dari daging kurbannya.

  1. Takbir dihari ied.

وروى ابن أبي شيبة بسند صحيح عن الزهري قال : كان الناس يكبرون في العيد حين يخرجون من منازلهم حتى يأتوا المصلى وحتى يخرج الإمام فإذا خرج الإمام سكتوا فإذا كبر كبروا . انظر إرواء الغليل 2/121

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi syaibah dengan sanad yang shahih dari azzuhri ia berkata : Orang-orang bertakbir di hari ied ketika keluar dari rumah-rumah mereka sampai tiba di lapangan dan sampai imam keluar, jika imam telah keluar maka mereka diam, jika imam bertakbir mereka pun ikut bertakbir. [Irwaul ghalil : 2/121]

Waktu takbir iedul fithri dimulai dari malam iedul fithri sampai imam masuk ke lapangan untuk memimpin shalat.

Waktu takbir iedul adha dimulai dari awal hari Dzulhijjah sampai terbenam matahari di hari tasyriq yg terakhir.

  1. Ucapan selamat dengan kalimat

تقبل الله منا ومنكم

TAQABALLALLAHU MINNA WAMINKUM

عن جبير بن نفير رضي الله عنه قال : كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ ﷺ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ
العِيدِ يَقُولَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضِ: تُقُبِّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ[صحح إسناده الألباني في تمام المنة – رقم: (354)]

Dari jabir bin nufayr nufayr ia berkata : dahulu para sahabat Nabi shallallahu alayhi wassalam jika saling bertemu dihari ied berkata satu kepada yg lainnya :

TAQABALALLAHU MINNAA WAMINKA

Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kamu.[dishahihkan al-Albani sanadnya di tamamulminnah no : 354]

  1. Berhias di hari Raya.

أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالْوُفُودِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ

Umar membawa baju jubah terbuat dari sutera yang dibelinya di pasar, jubah tersebut kemudian ia diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, Wahai Rasulullah, belilah jubah ini sehingga engkau bisa memperbagus penampilan saat shalat ‘Ied atau ketika menyambut para delegasi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata kepadanya: “Ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian (di akhirat).[HR Bukhari: 948]

Syahid (dalil) pada hadits ini bahwasanya Nabi shallallahu alayhi wassalam menyetujui berhias untuk hari raya akan tetapi yang beliau ingkari adalah pakaian tersebut terbuat dari sutera yang haram bagi seorang muslim memakai nya.

وعن جابر رضي الله عنه قال : كان للنبي صلى الله عليه وسلم جبة يلبسها للعيدين ويوم الجمعة . صحيح ابن خزيمة 1765

Dari jabir radhiyallahu anhu berkata : dahulu Nabi shallallahu alayhi wassalam memiliki jubbah (khusus) yang beliau pakai untuk dua hari raya dan hari Jum’at. [Shahih Ibnu khuzaymah : 1765]

Adapun bagi wanita menjauhkan diri dari berhias jika keluar dari rumahnya karena terlarang bagi mereka untuk menampakkan perhiasan mereka didepan pria yg bukan mahram, begitu juga terlarang bagi wanita menggunakan minyak wangi dan berpamer ria dihadapan laki-laki karena hakikat ia keluar rumahnya adalah untuk ibadah dan ketaatan.

  1. Pergi menuju lapangan dengan menempuh jalan yang berbeda dengan jalan pulang.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhuma, ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat ‘Ied, beliau mengambil jalan yang berbeda (antara berangkat dan kembali).[HR Bukhari: 986]

7. Shalat dua rakaat setelah kembali dari shalat ied

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَا يُصَلِّي قَبْلَ العِيدِ شَيْئًا فَإِذَا رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ.[حسنه الألباني صحيح ابن ماجه – رقم: (1076)]

Dahulu Rasulullah shallallahu alayhi wassalam tidak shalat sebelum ied jika telah kembali ke rumahnya beliau shalat dua rakaat. [Dihasankan al-Albani di Shahih Ibnu Majah no : 1076]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *